7 Teori kebenaran dalam filsafat yang wajib kamu ketahui
Filsafat

7 Teori kebenaran dalam filsafat yang wajib kamu ketahui

Perbincangan tentang teori kebenaran dalam filsafat sebenarnya sudah dimulai sejak Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal.

Kemudian dilanjutkan oleh Aristoteles hingga saat ini, dimana teori kebenaran dalam filsafat berkembang terus untuk mendapatkan penyempurnaan. Untuk mengetahui ilmu pengetahuan mempunyai nilai kebenaran atau tidak sangat berhubungan erat dengan sikap dan cara memperoleh pengetahuan.

Berikut secara tradisional teori kebenaran dalam filsafat itu antara lain sebagai berikut:

The Consistence Theory Of Truth (Teori Koherensi)

 

Teori kebenaran dalam filsafat

Teori kebenaran dalam filsafat yang pertama sering disebut dengan The Consistence Theory Of Truth, Teori Koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Beberapa teori yang melandasiThe Coherence Theory of Truth adalah :” According to this theory truth is not constituted by the relation between a judgment and something else, a fact or really, but by relations between judgment themselves“.

Menurut Teori kebenaran dalam filsafat ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri.

Dengan demikian, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.

Baca juga : 4 Tokoh Pendidikan Indonesia yang paling berpengaruh di Dunia

The accordance Theory of Truth (Teori Korespondensi)

Teori kebenaran dalam filsafat

Kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Teori kebenaran dalam filsafat Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell (1872-1970).

Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berkesesuaian) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibu kota republik Indonesia.

Menurut Teori kebenaran dalam filsafat ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian (correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.

Inherent Theory of Truth (Teori Kebenaran Inherensi )

Teori kebenaran dalam filsafat

Kadang-kadang Teori kebenaran dalam filsafat ini disebut juga teori pragmatis. Teori Pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat. Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial.

Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.

Menurut Teori kebenaran dalam filsafat ini proposisi dikatakan benar sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan. Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna (useless).

Baca juga : 6 Universitas Swasta Terbaik di Jakarta yang sudah Go Internasional

Semantic Theory of Truth (Teori Kebenaran Arti)

Teori kebenaran dalam filsafat

Yaitu proposisi yang ditinjau dari segi anti dan maknanya. Teori kebanaran semantis dianut oleh faham filsafat Bertrand Russel sebagai kokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa.

Menurut teori kebenaran semantis bahwa suatu proporsisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Oleh karena itu, Teori kebenaran dalam filsafat ini memiliki tugas untuk menyelidiki keabsyahan proporsisi dalam referensinya.

Dengan demikian, Teori kebenaran dalam filsafat semantik menyatakan bahwa proporsisi itu mempunyai nilai kebenaran jika proporsisi itu memiliki arti.

Arti dari Teori kebenaran dalam filsafat ini menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi ataukenyataan.

Selain itu juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitive (arti yang jelas dengan menunjuk cirri yang khas dari sesuatu yang ada).

Teori Kebenaran Sintaksis

Teori kebenaran dalam filsafat

Para penganut Teori kebenaran dalam filsafat sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekat.

Suatu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan sintaksis yang baku, dengan kata lain apabila pernyataan tersebut tidak mengikuti aturan atau keluar dan yang disyaratkan maka proposisi itu tidak memiliki arti.

Teori kebenaran dalam filsafat ini berkembang diantara para filsuf analisis bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika. Teori ini berbasis pada keteraturan sintaksis atau tata bahasa yang digunakan dalam suatu pernyataan.

Baca juga : 7 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia dengan Grade A

Teori Kebenaran Performatif

Teori kebenaran dalam filsafat

Teori kebenaran dalam filsafat ini dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Teori ini berpendapat bahwa suatu proposisi akan memiliki nilai benar selama pernyataan tersebut memiliki fungsi yang praktis dalam kehidupan sehari-hari, karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu.

Teori kebenaran dalam filsafat ini dianut oleh filusuf Frank Ramsey, John Austin, dan Peter Strawson. Mereka menentang teori klasik bahwa “benar” dan “salah” adalah ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu (deskriptif).

Proposisi yang benar berarti proposisi yang menyatakan sesuatu yang memang benar. Demikian sebaliknya. Namun, justru inilah yang ditolak oleh filusuf-filusuf ini. Menurut teori kebenaran performatif, suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan itu menciptakan realitas.

Jadi, pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas tapi justru dengan pernyataan itu tercipta suatu realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan itu.

Logical Superfluity of Truth (Teori Kebenaran Logic berlebihan)

Teori kebenaran dalam filsafat

Teori kebenaran dalam filsafat ini dikembangkan oleh kaum positivistik yang diawali oleh Ayer. Menurut Teori kebenaran dalam filsafat ini, yang menjadi masalah dalam suatu kebenaran hanyalah kekacauan bahasa saja, yakni berupa pengulangan proposisi yang telah dijelaskan dalam pernyataan yang lebih umum.

Hal ini menyebabkan pemborosan, karena pada dasarnya, hal yang ingin dibuktikan sebenarnya telah diterangkan dalam pernyataan sebelumnya. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan berakibat suatu pemborosan.

Karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing saling melingkupinya. Dengan demikian, sesungguhnya setiap proporsisi yang bersifat logic dengan menunjukkan bahwa proporsisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama, dan semua orang sepakat.

Baca juga : 6 Syarat jadi Dosen tetap Non PNS yang harus kamu Tahu

Sehingga apabila kita membuktikanya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yangberlebihan saja. Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yanghendak dibuktikan nilai kebenaranya sebenarnya telah merupakan fakta atau data yang telah memiliki evidensi. Artinya, objek pengetahuan itu sendiri telah menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri.